Rabu, 03 September 2014

JMBTEAM FF



HAI INI FF KE 2 BUAT JMBTEAM.

Genre: SAD COOYYY!
pairing: pair nya ada 4couple. liat aja entar ya.
Cast: *gak ada yang jadi peran utama.jadi entar tentuin aja peran utama nya siapa8
rincian: nih JMBT itu anngep aja kaya EXO/?. jadi ntar ada JMBT-M dan JMBT-K. kaya exo gitu pake K-M. paham(?)
dan ff ini di bantu oleh ide nya author [EggCheese_ ] yang sudah sangat berpengalam..

Happy Reading 


summary: “apakah tuhan sengaja menciptakan makhluk yang nyaris sempurna seperti kalian untuk tidak bisa kami miliki?”




.
.

.
.
“ini pesanannya..”
bokur mengambil malas bubble tea yang baru saja disodorkan. Ia menghela nafas panjang sebelum ia menyerahkan uangnya pada penjual bubble tea itu yang bernama gehul.
Tentu ini bukan kali pertamanya ia ke sini.
Umm… bisa dibilang cukup sering.
“sendiri? Kemana kekasihmu?”
Kali ini bokur yakin jika penjual itu bukan salah satu dari penggemarnya. Atau mungkin juga dia bukan penggemar sebuah grup pria baru yang berada dibawah naungan JMBT Ent.
Mungkin saja tragedi itu belum sampai ke telinga orang banyak…
“hey… mana kekasihmu?” kembali, penjual itu menanyakan hal yang mungkin membuat goresan luka di hati bokur semakin terbuka lebar.
Ia menggertakkan giginya kesal, wajahnya mulai mendekati gehul penjual itu dan membisikkan sesuatu di sana.
“bukan urusanmu..” tegasnya dingin. Dan sesaat setelah itu, bokur menapakkan kakinya menjauh dari tempat yang membuat moodnya kembali buruk.
Bukan seperti bokur yang biasanya..
Kakinya berjalan seperti biasa. Hanya saja.. ia hanya memandang kosong keluar.
Pandangannya memang kosong, tapi siapa yang tahu dengan isi pikirannya? Berkecamuk.
Marah, sedih, panik semuanya seolah bersatu untuk membuatnya hilang kendali.
Ia menatap langit siang itu. mendung. Bahkan rintik hujan sudah mulai membasahi pakaiannya.
Tidak sepenuhnya hujan, hanya rintiknya saja. Seolah langit tengah menahan tangisnya.
Seperti dirinya kini.
Oh baiklah, ingin rasanya ia menangis histeris, berteriak seperti orang gila. Tapi, hanya satu yang membuatnya hanya bisa menahan pilu ini.
becu miyou.
yeoja cantik itu yang membuatnya seperti ini.
Bukan karena becu berulang kali mengatakan padanya untuk tidak cengeng… Tapi, jika ia menangis karena hal ini.. itu berarti kenyataan itu memang benar. becu telah pergi.
“Bokur-ssi jangan marah.. jiyaz memintaku untuk mengajarinya memasak untuk barcey. Sebentar lagi kami menyusul…. Ya, aku tahu. Aku juga mencintaimu bokur-ssi”
Percakapan terakhir sebelum akhirnya tuhan mengambil malaikat itu dari sisinya.
Begitu cepatnya… hingga membuatnya nyaris menyerah menghadapi hidup ini.
Dan satu lagi, bokur bahkan tidak datang saat pemakaman becu. Karena ya… itulah alasannya.. ia tidak ingin seperti orang yang merelakan kepergian becu.
Jangan harap, ia akan merelakan pengendali tubuhnya pergi.
Oh baiklah, mungkin dia tidak setegar bayun yang pergi ke pemakaman.
Aaahhh Persetan!
manusia yang satu itu mungkin tidak tahu rasanya bersedih!

bokur kembali menghela nafas panjang, membiarkan seluruh beban yang seolah menghimpit kepalanya keluar sedikit demi sedikit. Dia dudukkan tubuhnya pada bilah kursi dekat pohon tinggi nan lebat di tengah taman.
Taman yang selalu mereka kunjungi ketika mereka berkunjung ke Seoul.
“becu-ah…” hanya sahutan kecil.
bokur menghiraukan orang-orang yang berlalu lalang di depannya dan menatapnya haru. 

“becu.. kau mendengarku?”
Bubble tea yang digenggamnya dia letakkan di sampingnya. tidak punya selera lagi untuk memakannya.
Sekali lagi… BOKUR seperti kehilangan jati dirinya.
Hey! bokur yang begitu maniak dengan minuman bernama Bubble tea sekarang menghiraukannya?
Umm.. sebenarnya ia sedikit beruntung di antara yang lainnya. Menikmati kebersamaan bersama becu dalam sebuah ikatan status bernama kekasih, cukup beruntung untuknya.
5 bulan lebih…
Oh tentu saja selama 5 bulan itu.. hubungan mereka romantis-romantis saja. Tidak pernah ada pertengkaran di antara mereka.
Serasi bukan?
Tapi sayangnya, tidak ada lagi…
Dan  ia sendiri tidak tahu, siapa yang akan menggantikan hatinya kosong ini.
Bisakah? Tidak!
Ia tidak rela jika ada orang lain yang menggantikan sosok malaikatnya.
“becu-ah, aku membawa bubble tea… kau mau kan?”
Tidak ada sahutan dari yang diajak mengobrol.  Hanya angin yang menjadi pengantar jawaban, menerbangkan daun-daun kering yang berserakan.
“wo ai ni… becu-ah”
TES

Akhirnya. Cairan bening itu keluar, seiring dengan derasnya hujan yang mengguyur tubuhnya. Dengan disertai angin yang begitu besar. Hey! Dialah yang memiliki kekuatan angin, kenapa ia tidak bisa mengendalikan angin yang begitu besar ini?
SRET

bokur hanya memandang datar pahanya yang kini sudah ada sehelai daun di sana. Ia mengambil malas daun itu, hendak membuangnya.
Tunggu..
Ia membalikkan cepat daun itu, hingga menampilkan beberapa huruf hangul yang begitu acak-acakkan.
“na.. do.. saranghae.. bokur-ssi”
DEG

“BECU?? BECU MIYOU??? Hey, jangan bercanda.. kau di mana?” ia tolengkan beberapa kali kepalanya ke kiri dan ke kanan, untuk memastikan bahwa memang malaikatnya ada di sini.
Kemeja biru yang dikenakannya sesudah hampir seluruhnya basah. Tak ia hiraukan. Ia hanya ingin menemukan malaikat yang baru saja mengirimi pesan dalam sehelai daun.
Cukup, ia menyerah.
Ia mulai beranjak dari duduknya dan pergi menjauh dari kursi itu. ia berjalan tertatih, air matanya sudah tersamarkan oleh hujan.
Air mata?
Itu artinya, ia memang sudah menganggap kenyataan ini benar.
Kenyataan yang tidak bisa dikembalikan lagi…
Walaupun untuk sekali, tidak akan pernah untuk bisa menemukan becu di dunia ini.
Kakinya terus melangkah, berjalan untuk menemui masa depan, mencoba merelakan becu yang kini tidak bisa untuk ada di sampingnya.
WUSHH
TAP

bokur menghentikan langkahnya, ketika angin yang lumayan besar menghantam tubuhnya. Sudut matanya menangkap sosok yang memakai pakaian serba putih di sampingnya.
Kali ini ia memutar kepalanya ke samping dan tersenyum hangat menatap sosok indah itu. ia menengadah memandang langit yang menangis dan kembali berjalan dengan sosok itu di sampingnya.
Sosok khayalan.
Tentang becu-nya.
.
X
.
Duk

Duk

Bola pertama dari kesebelas bola yang gagal masuk ring. Keringat tinggallah keringat. Air mata tinggallah air mata.
Karena pada akhirnya dua cairan itu sudah tersamarkan oleh hujan.
Tubuh tingginya membungkuk dengan telapak tangan menumpu pada lutut. Bahunya naik turun. Entah itu karena dia capek atau mungkin menangis tertahan.
Ia kembali menegakkan tubuhnya dan menatap langit kelam.
Ini… ini ada di mana??
Ah tentu saja ini di lapang basket.
Tapi.. ini di daerah mana?
Mata elangnya menatap ke sekeliling lapangan, ini jelas bukan lapang basket di China tempat di mana ia pernah menjadi kapten basket.
Tapi barcey juga yakin… ini bukan Seoul.
Yang dia ingat tadi hanya.. berlari dari rumah sakit dan melesat pergi memakai mobilnya ke tempat ini.
Ia menghela nafas panjang, terlihat asap  dingin yang keluar dari mulutnya. Cuaca memang tidak baik saat ini. persis seperti kehidupannya bukan?
Sekarang ia ada di mana… itu sepertinya tidak penting. Akan lebih baik jika ia tersesat di ujung dunia atau ke mana pun tempat hingga ia bisa terhindar dari kenyataan ini.
“oppa ke sana duluan.. aku akan menyusul nanti dengan becu unni, kleis unni, dan nabe unni ”


“oppa menyukai seseorang yang pandai memasak bukan? Aku akan memasak untuk oppa.. tapi dibantu oleh becu eonni, tidak apakan?”

“oppa jangan makan dulu ya… tunggu kami datang… aku tidak tahu kenapa nabe ikut kami menyusul. Tapi jika kleis eonni, sepertinya oppa tahu jika ia sudah seperti itu, berarti ia ada masalah dengan bayun hyung”

Sayangnya panggilan oppe dengan begitu manisnya sudah tidak bisa ia dengar lagi.
“Bbuing-Bbuing”

Tidak akan ada lagi aegyo yang bisa dilihatnya ketika yeoja manis itu meminta tas gucci padanya. Siapa lagi yang akan merengek, memintanya untuk melihat aksi aegyo nya??
jiyaz..
yeoja kesayangannya..
Sudah mati bersama hatinya..
Membiarkan hati ini kosong, tanpa celah yang bisa dilewati oleh orang yang menggantikan jiyaz nanti di hatinya.
Sepertinya baru kemarin ia merasakan kebahagiaan bersama jiyaz.
Sudah berjalan satu Minggu ia berpacaran dengan jiyaz… dan itu pun, jiyaz yang pertama kali menyatakan perasaannya.
Satu lagi.. hubungannya selama satu Minggu itu sedikit renggang.
Sebenarnya jika dilihat dari luar, memang mereka biasa-biasa saja. Tidak pernah merasakan konflik dalam suatu hubungan.
Tapi barcey menyadari… jika jiyaz menyimpan kecemburuan pada teman lainnya. ores.
Oh ya tentu saja alasannya hanya satu. ores pintar memasak, dan dia menyukai orang yang bisa memasak.
Oh, astaga! Bahkan barcey tidak pernah berpikir jika ia memilih ores dari pada jiyaz karena hal sepele itu!
Bahkan jiyaz rela pergi menyusul karena ingin membuatkan makanan.
Harusnya ia bisa melarangnya…
Jika memang ia tahu dari awal.. tentu ia akan memaksa jiyaz untuk pergi bersamanya, bukan menyusul.
Ah tidak, jika perlu, ia rela menemani jiyaz memasak, dan mati bersama. Itu cukup bahagia.
Ia… terlalu banyak menyakiti hati jiyaz.
Jahatkah ia?
Hey! Sekarang sudah tidak ada jiyaz, seharusnya dia bisa tenang bukan?
jiyaz selalu memintanya untuk menemani belanja dengan ancaman ia akan membongkar rahasia masa lalunya.
jiyaz adalah sumber kelemahannya… dan sekarang sudah tiada.
Seharusnya ia bahagia bukan?
Tapi… tanpa sadar, ancaman-ancaman yang selalu keluar dari mulut jiyaz..  semakin ia terjerat dalam pesona yeoja itu.
barcey memejamkan matanya rapat. Potongan kejadian hari kemarin seakan mengiang di pikirannya. Menghantam kepalanya dengan berjuta batu yang besar. Sakit.
JMBT -M dan JMBT- K memang diundang untuk hadir ke suatu acara untuk tampil ber-12. JMBT M sebenarnya baru datang kemarin ke Seoul dan harus dipaksa pergi ke acara. Hanya delapan orang yang berangkat bersama, dan empat lainnya pergi menyusul.
Sebenarnya mereka semua yang sudah tiba terlebih dahulu merasa cemas karena empat lainnya tidak kunjung datang. Dan dering ponsel barcey berbunyi, memecah kesunyian di sana. Dengan ekspresi serius barcey menjawab panggilan telepon itu.
Dan sebuah kenyataan pahit harus ia lalui.
Mobil yang ditumpangi oleh ketiga rekannya dan kekasihnya mengalami kecelakaan…
“kau menginginkan apa? Tas? Boneka? Akan aku belikan.. asal kau jangan menyiksaku dengan cara seperti ini jiyaz…”
BRUK

barcey jatuh dengan lutut yang menumpu tubuh tingginya. Ia.. menyerah.
Ia tidak tahu apa yang akan terjadi dengan hari esok atau hari lainnya tanpa Jiyaz.
Rambut hitam.. benar-benar sudah tidak teratur lagi, sekarang juga Jiyaz malah mengacak rambutnya dan kembali menundukkan kepalanya.
DUK

Masih tetap dalam posisinya yang semula. Menghiraukan benda kecil yang tergeletak tepat di samping tubuhnya. Oh ya, barcey sudah tidak peduli lagi dengan keadaan sekitarnya.. karena yang ia pedulikan hanya Eun Jiyaz. Garis bawahi itu, Eun Jiyaz.

WUSH

Angin kencang sore itu menerbangkan rambutnya yang basah karena hujan. Menusuk dingin menyapu kulitnya.
Sekali lagi..barcey  masih bertahan pada posisinya, tak sekalipun melirik benda mungil di kanan tubuhnya.
“oppa..”

Sontak barcey membuka matanya lebar-lebar. Ini nyatakan? Ia baru saja mendengar suara jiyaz memanggil namanya.
Ia menoleh ke arah kanan dengan sekali sentakan, karena memang tadi ia merasa Jiyaz membisikkannya dari telinga kanan.
Dan apa yang ia lihat?
Panda… ah bukan lebih tepatnya boneka panda. Tangan kekarnya mengambil cepat boneka panda yang tentu saja jiyaz mengenal boneka itu.
Boneka milik jiyaz, yang selalu anak itu bawa ke mana-mana termasuk ke Disneyland dulu.
“jiyaz.. kau ada di sini kan? Eun Jiyaz!!”
barcey berdiri, mengedarkan pandangannya ke seluruh lapangan. Jiyaz tidak ada di sana.. dan ia harus menerima itu.
Dengan langkah gontai, ia berjalan meninggalkan lapangan itu menuju tempat di mana mobilnya terparkir.
Ia tidak tahu apa yang akan terjadi dengan hari esok dan hari-hari lainnya tanpa jiyaz. Dan berapa tahun lagi, akan ada celah di hatinya untuk bisa diisi oleh orang lain yang menggantikan posisi jiyaz.
Saat ini hatinya begitu kosong, kelam karena penghuninya pergi. Barcey menutup pintu mobilnya dan menjalankan mobilnya dalam kecepatan standar. Hujan masih deras,memecah kesunyian dalam mobilnya.
Tak perlu ia menepikan mobilnya untuk melihat siapa sosok yang duduk di samping kemudi. Jiyaz. Perempuan itu kini ada di sampingnya, menemaninya menyetir. Namun itu hanya ilusi belaka.
.
X
.
Kajix menggerutu kesal karena setiap ponselnya berdering tentu ada satu pesan masuk dari satu orang yang sama. Deult. Bukan karena ia membenci deult, pasalnya anak itu selalu mengirim pesan tidak jauh dari topik yang sebenarnya.
From: Deult
Kajix, bagaimana dengan kondisi osef Hyung?

Oh ya, memangnya osef masih anak kecil hingga harus diperhatikan seperti ini?
Ia tutup telinga sebelah kirinya dengan tangan kiri, sementara tangan kanannya sibuk untuk mengirim pesan untuk Deult.
Ada beberapa alasan karena tadi ia tidak sempat membalas pesan dari Deult.
To: deult
osef Hyung sekarat!!

Sent
Oke, itu berlebihan. Tapi emang itu kenyataannya. teman nya kini tengah sekarat, bahkan di ambang kematian!
Ia menghela nafas panjang dan memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celana Jeans-nya.
Mengenai alasan mengapa ia terlambat membalas pesan dari Deult, itu karena… tangan osef tidak bisa diam dan.. bau alkohol dari tubuh osef benar-benar mengganggu.
Kali ini Kai menggunakan dua tangan untuk menutup kedua telinganya. Musik club benar-benar membuat kepalanya pecah. Terlebih dengan suasana hati buruk seperti ini.
“nabe-ssi.. jangan pergi.. kembali.. kembali nabe-ssi.. aku mencintaimu, hahaha uhuk”
kajix memandang datar osef yang duduk di sampingnya. sudahlah, kajix tidak mau menghitung berapa gelas whisky yang diminum osef.
Guardian Angel?
Oh, kajix tidak yakin orang akan memanggil osef seperti itu lagi jika melihat kehancuran lelaki itu.
Beruntung sekali ia tidak ikut-ikutan mabuk, jika seperti itu.. siapa yang akan mengantar osef pulang?
Meski ia adalah orang yang paling terpukul dalam tragedi ini.
Cho Nabe.
Orang yang ia cintai.. bukan.. bukan hanya dia, tapi osef juga! Dan.. nabe sudah memutuskan untuk memilih osef.
Rumit. Bahkan Kajix hampir putus asa menjalani hidup ini dengan kepura-puraan.
Pura-pura untuk bersikap seperti biasa pada nabe. Bersikap sebelum ia mengenal cinta yang ia tujukan pada yeoja cantik itu.
Pada akhirnya, baik osef maupun kajix tidak ada yang bisa memiliki lelaki itu.
Tapi sepertinya osef lebih beruntung darinya, sangat beruntung malah.
GREBB

“nabe-ah..”
osef memeluk erat lengan kajix. kajix hanya menghela nafas berat dan memejamkan matanya, sepertinya ia sedikit maklum dengan sikap osef yang seperti ini.
Tapi awas saja jika ia bersikap seperti ini dalam keadaan normal, ia tak segan-segan untuk melayangkan bogemnya pada sang leader.
“jika aku memergokimu minum, jangan harap kau bisa tidur di kamarku malam ini…”

osef tersenyum masam, masih memejamkan matanya. Tak peduli dengan osef yang kini memainkan kancing kemeja hitamnya.
Memang pada awalnya ia akan ikut dengan bayun, Deult, kosik dan mamtey untuk pergi ke pemakaman. Oh ya, dia juga sudah memakai baju yang biasa dipakai orang untuk pergi ke pemakaman, dan tiba-tiba saja osef mencegat mereka, dan memaksa Kajix untuk menemaninya minum.
“osef Hyung.. sampai kapan kau akan berada di sini? Ayo pulang~”
Tak peduli ia seperti anak kecil yang merengek untuk dibelikan sesuatu, yang kajix inginkan hanya satu!
Ia ingin pulang dan menenangkan diri!

Drrtt.. drrtt..
From: deult
jangan bercanda Kkam-kajix! Cepat pulang!

kajix berdecak kesal ketika melihat isi pesan dari Deult. Dengan cepat ia mengetikkan balasan untuk Deult.


To: deult
kau rela.. jika aku meninggalkan osef hyung di sini? Kau saja yang kemari! Di dorm juga pasti ada orang kan? Bayun Hyung, kosik-ge dan mamtey-nuna

kajix menjilat bibir bawahnya. Jika dipikir, dalam keadaan seperti ini, menurutnya sikap ia terlihat sedikit lebih dewasa dari osef. Ia bisa berpegang teguh dalam pendiriannya untuk tidak minum padahal hatinya sedang tak tenang.
Ia kembali melihat tubuh O-sef yang sekarang ambruk ke meja bartender. Benar, ia tidak bisa meninggalkan Osef sendiri di sini meski memang ia pernah menaruh benci pada hyung yang satu itu.
“maaf kajix, aku.. aku tidak bisa membalas.. perasaanmu”

Kajix meremukkan jarinya, nafasnya naik turun. Perkataan Nabe dua Minggu yang lalu berhasil membuat tubuhnya menegang seketika. Jika diingat lagi, waktu itu Kajix hanya tersenyum dengan perkataan Nabe yang berhasil mengobrak-abrik seluruh isi hatinya.
Cukup, tidak ada yang perlu disesali, tidak ada yang memiliki namja cantik itu. sekali lagi, tidak ada.
Tapi sepertinya ia cukup beruntung dalam hal ini.nabe tahu perasaannya yang selama ini ia pendam tidak seperti seseorang. Byun-Kleis. Berita itu seharusnya sudah didengar oleh semua member. Tapi kenyataannya kleis belum mengetahui perasaan yang dipendam Park-Bayun.
kajix tertawa miris. osef sepertinya sudah tidur, terdengar dari bunyi helaan nafasnya yang teratur. Tangan kajix terangkat dan menempel di rambut osef. Ia usap lelaki yang lebih tua darinya walau sebenarnya ia ingin menghajar lelaki ini.
Tapi tidak, Kajix masih waras untuk melakukannya. Dan satu lagi, ia sangat menyayangi leadernya.
Ia kasihan pada osef walau dirinya juga perlu dikasihani.
Cho Nabe mereka telah pergi, dan tak akan pernah kembali…
Kajix menghembuskan nafasnya dalam-dalam dan kembali mengetikkan pesan di ponselnya.
To: deult
aku akan pulang sebelum jam 4 pagi
Sent.
Ia baru saja hendak menggendong Osef, tapi lagi-lagi Osef mengigau. Berlebihan jika karena Osef mengigau, Kajix menghentikan niatnya. Tapi igauan itu membuat Kajix kaget sekaligus terdiam.
“Nabe-ah, kau boleh… bersama… kajix… asalkan kau.. uhuk.. ada di sini”
Dan selepas itu, Kajix hanya bisa menyeka air matanya kasar. Jadi… Osef telah mengetahui semuanya, mengetahui jika ia menyimpan perasaan pada kekasihnya.
Tentang masalah kenapa nabe ikut menyusul bersama ke tiga rekannya, Kajix sepertinya tahu alasannya.
Nabe ingin menghindarinya.
Osef dan Kajix. Mereka berdua, adalah dua lelaki yang begitu kosong hatinya. Kekosongan yang bisa berlangsung begitu lama tanpa bisa mereka hitung.
.
X
.
“eh iya.. Eh tidak.. Iya.. Tidak.. Tidak..” bayun masih sibuk dengan pikirannya. Hampir tengah malam, dan bayun masih berdiri di sana dengan berbagai pikirannya. Bunga lily yang dipegangnya bergerak tarik ulur.
Jika bayun menyimpan Lily itu di pusara kleis, itu artinya bayun sudah mengikhlaskan lelaki itu. Dan Ba-yun benar-benar tidak bisa melakukannya.
no more shakin like that~


Bayun membuka flap ponselnya dan membaca deretan huruf di layar ponselnya.
Si pelupa kolu.
“ada apa lagi? Bukankah sudah ku katakan jika aku akan pulang sebentar lagi…”
“kau baik-baik saja kan?” terdengar nada khawatir di ujung sana.
Bayun diam untuk beberapa saat. “aku? Tentu saja aku baik-baik saja, Kolu bodoh! Aku.. Hanya ingin mengantar kepergian si pendek itu saja, hahaha”
Berusaha sebisa mungkin agar tawanya tidak terlihat kaku. Dia itu happy virus, tentu saja dengan mudah bisa mengelabui semua orang dengan semua kekonyolannya.
Terdengar helaan nafas dari ujung sana disertai dengan decakan halus. “cepatlah pulang, sangat aneh jika tidak ada kegaduhan di kamarmu dan…. Maaf, Kleis”
Bayun sekali lagi tertawa. “kau begitu canggung sekali menyebut nama Kleis… Kau takut ya jika Kleis mendengarnya di sini dan menggentayangimu?”
Kembali terdengar bunyi decakan di sebrang sana. “seperti kata kleis, kau tidak pandai berbohong Park-bayun…”
Tawa kembali terdengar memecahkan keheningan di pemakaman itu. “itu berarti aku anak yang baik”
“terserah Kau mau mengatakan apa, tapi cepatlah pulang sekaraaanggg jugaaaaa!”

Bayun  sedikit menjauhkan ponsel Dari telinganya ketika lengkingan khas kolu terdengar begitu keras Dan berisik. “suara kau jelek sekali” Bayun berdecak dan mengusap telinganya.
“aku tidak peduli… Kau juga, tidak bisa menari. Payah!”
“tapi setidaknya aku bisa rapp” bangga bayun tidak mau kalah.
“aku juga bisa”
“rapp-mu jelek” hardik bayun yang sebenarnya hanya bercanda.
“awas kau jika kembali ke dorm nanti”
“awas? Memang ada apa? Aku tidak takut pada kau yang lebih pendek dariku”
“aih Park Bayun!!! Aku akan berdoa pada tuhan agar Kleis bisa tiba-tiba keluar dari tanah dan beradu mulut denganmu. Karena menurutku hanya dia yang bisa mengerti apa yang kau bicarakan dan menjadi lawan mainmu”
Bayun diam untuk beberapa saat. “baiklah, lain kali aku juga akan ikut berdoa untuk yang satu itu…. Tapi, karena Kleis tidak ada, bisakah aku mem-bully kau? Hahaha”
“Bayun sepertinya persepsiku tentang kau gila itu benar, karena kau sudah berulang kali tertawa keras di pemakaman… Kau tidak takut?”
“tentu saja tidak! Di sini ada teman sekamarku, Byun-Kleis…”
Terdengar helaan nafas dari sebrang sana. “cepatlah pulang..”
“sebentar lagi Xi-Kolu”
“Baiklah, asal kau tidak pulang pagi..”
Klik.
Bayun bungkam sekarang. Tak perlu lagi sekarang ia berdusta. bayun tersenyum masam dan bernafas lelah.
“aku tidak bisa kleis-ssi…” lirihnya.
Sebenarnya hujan sudah reda sejak satu jam yang lalu, kemeja hitam yang digunakannya juga sudah nyaris kering sepenuhnya. Tapi hawa dingin semakin menyeruak menyiksanya.
Ia jadi ingat dengan kebiasaan kelis yang tidak tahan dingin.
Bayun mendudukkan tubuh tingginya di samping pusara yang menyimpan tubuh seseorang yang menjadi alasan mengapa ia hidup.
“maafkan aku karena sedari tadi berbohong… Kau pasti tahu tadi aku berbohong. Benarkan?”
Hening.
“diam, itu berarti benar. Aku benar-benar bukan pembohong yang baik” jeda sebentar untuk Bayun  mengambil nafas. “kau pasti kedinginan tidur di sini, keke”
“aku juga pasti akan kesepian ketika sudah berada di kamar kita nanti. Apa perlu aku menginap di sini?”
Bayun kembali beranjak. Dan dengan berat hati, ia menyimpan lily itu di pusara Kleis. “tapi aku tidak bisa tidur di sini. Kolu sudah memperingatkanku… kleis-ssi aku pergi.. Besok, aku akan kembali lagi kemari”
Bayun tersenyum. Ia mengusap pelan pusara kleis
 dan mulai berjalan meninggalkan pemakaman itu dengan hati yang sebenarnya berat.
****
Mata bayun bergerak mengelilingi ruangan. Tidak terlalu luas juga, hanya dua tempat tidur kecil dengan nakas sebagai pembatasnya.
Terdengar gemericik air dari luar jendela yang belum ditutup. Sepertinya hujan lagi. Beruntungnya ia karena segera pulang.
Sebenarnya dorm begitu sepi malam ini. Terbukti ketika ia datang, hanya mamtey, michan Kosik dan Kolu yang menyapanya, dan setelah itu mengomelinya.
Bokur, Barcey,Osef dan Kajix menurutnya mereka menghilang hanya karena ingin menenangkan diri terlebih dahulu. Oh ya, ia ingat juga tadi di antara mereka berempat tidak ada yang pergi ke pemakaman.
Sebenarnya ia juga tidak ingin pergi ke pemakaman. Tapi apa alasannya? Ia bukan siapa-siapa dari ke empat orang yang meninggal, termasuk kleis. Ia bukan siapa-siapa yeoja itu. Tidak seperti bokur yang memang kekasih Becu, barcey kekasih Jiyaz dan.. Osef kekasih Nabe. kajiix, sepertinya lelaki itu juga tidak memiliki alasan, ia juga tadi hendak bersamanya pergi ke pemakaman. Tapi Osef segera mencegat mereka dan meminta kajix untuk menemaninya minum. Frustasi sepertinya.

Panas.
Benar kata kajix dulu. Ruangan ini terasa seperti sauna. Karena ia juga merasakannya. Tapi ia yakin, penghuni tempat tidur ini pasti tidur nyenyak sementara ia sibuk kegerahan.
Bayun kembali memandangi kamar. Panas. Ia membuka kancing kemeja pertama dan kedua paling atas. Masih terasa panas.
Akhirnya ia membuka semua kancing kemejanya, dan melepas kemeja itu.
Topless.
Kejadian seperti ini juga pernah ia alami, terlalu sering malah. Ia memejamkan matanya sebelum akhirnya ia menarik nafas dalam-dalam.

Bayun terlonjak kaget ketika ia merasa kaki panjangnya menyentuh sesuatu di bawah. Ia memandang ke bawah. Ada snack di sana. Ia akhirnya melongok ke bawah tempat tidur. Dan menemukan banyak sekali snack di sana.
Jadi di sini Kleis menyembunyikan snack miliknya agar Bayun tidak mencurinya.
Ia tersenyum tipis. Itu memang salah satu kebiasaannya. Mencuri snack Kleis, dan memakannya. Hingga membuat yeoja yang lebih tua beberapa bulan darinya marah dan melempar bantal atau guling padanya.
Ia mengambil satu snack, membuka, dan memakannya. Mungkin saja kleis akan marah, hingga datang kemari dan…
PLUK
Bayun terhempas tidur di tempat tidur kelis setelah mendapat lemparan guling. Bukan. Bukan karena lemparan guling itu yang terlalu keras mendarat diwajahnya. Tapi… Hanya kleis yang selalu melakukannya ketika ia tertangkap basah memakan snacknya.
“Park BAYUN cepatlah tidur!”
BRAKK
Rupanya Kolu yang melempar guling itu. Mengagetkan saja. Ia berdecak sebal dengan sikap kolu. sejak dia masih di pemakaman, Kolu selalu mengaturnya seperti anak kecil. Mungkin karena sebelumnya ia nyaris dipilih sebagai leader JMBT M.
Malam sebelum Kleis kecelakaan, sebenarnya ia ada masalah dengan lelaki itu hingga Kleis menghindarinya dan lebih memilih pergi menyusul ke acara bersama nabe, becu dan jiyaz.
bayun malas mengingatnya. Tapi, semua kejadian malam itu seolah menyiksanya. Entahlah ia tidak tahu ini masalah kecil atau besar. Tapi, masalah ini juga melibatkan orang lain.
Kim Michan
Mantan kekasihnya.
Entahlah apa yang mempengaruhinya malam itu, tapi ia tiba-tiba saja bercerita tentang michan yang dikabarkan akan debut sebentar lagi.
“kau masih menyukainya?”
Bayun bungkam ketika mengingat kleis yang bertanya seperti itu. Sama seperti malam itu, bayun hanya diam.
masa iya Bayun harus mengatakan jika Kleis lah orang yang membuatnya bisa melupakan Michan.
“kau adalah orang yang paling mengerti tentang diriku, ku harap aku juga menjadi orang yang mengerti tentang kau, meski itu sedikit”
Dan setelah perkataan terakhir itu, mereka tidak mengobrol lagi karena Kleis sudah menutup obrolan itu dengan dengkingan halusnya. Itu sudah kebiasaan Kleis jika tertidur.
Posisinya masih sama. Tidur di ranjang Kleis. Dia tidak memejamkan matanya, hanya menatap langit kamarnya.

“aku merindukanmu… Pasti sangat kesepian jika menempati kamar ini sendiri”
Hanya merindukan. Tapi sebenarnya hatinya berkata lebih. Tapi tidak mungkin ia mengatakan suka pada Byun-kleis.
Sekali lagi, ia bukan siapa-siapa kleis.
Hatinya hampa. Begitu kosong karena penghuninya pergi. Ia menarik nafas panjang, ia harus tidur sekarang. Kalau tidak, ia akan terlambat untuk pers conference mengenai berita duka ke empat member JMBT.
Ia menoleh ke samping kanan tubuhnya. Sosok itu begitu dekat dengannya. Sosok kleis yang memakai baju putih bersih.
Hanya ilusi. Hey! Mereka satu ranjang? Baiklah, biarkanlah seperti ini meski memang Bayun tidak bisa memeluknya. Ia menyadari itu dan memejamkan mata dan setelah itu, suara nafas yang teratur telah terdengar.
.
X
.
Begitu hening pagi itu. tidak ada kegaduhan di meja makan itu. tidak ada masakan enak yang dimasak Nbae, meski masakan Kolu tidak kalah enaknya.
Bayun menarik kursi meja makan dan mendudukinya. Sedikit aneh karena kursi di sampingnya kosong. Ia tersenyum tipis, tempat di samping kanannya adalah tempat duduk kleis. Bokur duduk di hadapannya, lelaki itu lebih banyak diam dari tadi. Hanya memain-mainkan sendok di makanannya.
“tidak mau? Aku saja ya yang menghabiskannya?” canda Bayun memecahkan kesunyian itu.
Bayun tersenyum kikuk. Err… tidak ada yang terpengaruh candaannya. Bahkan barcey yang duduk di samping bokur menjatuhkan sendoknya ke piring hingga menggema di ruangan itu. hanya ada 6 orang di sana. kajix dan osef? Ah sepertinya mereka berdua ada di kamar kajix. Kata Deult, mereka berdua pulang jam tiga subuh.
KLEK
Pintu salah satu kamar dari tiga kamar di sana terbuka dan sosok kajix berdiri di ambang pintu dengan mengucek ke dua matanya. Sepertinya lelaki itu tampak kelelahan. Kajix mulai berjalan ke ruang makan menghampiri ke enam temannya yang memperhatikannya.
“osef hyung akan menyusul.. dia muntah di kamar mandi” terangnya dan menarik kursi di sebelah kursi kosong dekat Bayun. Sepertinya kajix cukup mengerti tentang kursi kosong itu adalah kursi yang selalu ditempati Kleis.
Ia mengambil nasi dan lauknya. Sesaat kemudian matanya mengerjap, bingung karena ke enam temannya memperhatikannya. “kenapa?”
“kau masih bisa makan Kai?” tanya Deult telak, membuat pergerakkan tangannya yang hendak memasukkan suapan pertamanya terhenti.
kajix mengernyit, ia tatap piring ke enam temannya. Belum ada sebiji nasi yang ada di piring mereka. “kenapa kalian tidak memakannya? Karena bukan masakan Nabe ya? aahhh Cho Nabe kemana ya?”
Hening.
Tatapan ke enam temannya malah tertuju pada orang yang berdiri di ambang pintu yang berhadapan yang punggung Kajix, membuat lelaki itu tidak bisa melihat. Kajix memutar kepalanya melewati bahu dan menemukan sosok yang tadi ia gendong ke dorm.
“O-oh, selamat pagi Osef hyung!” sapanya.
Osef menarik nafas panjang dan berjalan menghampiri mereka bertujuh. “kita harus siap-siap… akan ada pers Conference siang nanti”
Kajix sekarang bungkam. Padahal ia rasa kejadian itu adalah mimpi, karena itulah ia bersikap sewajarnya pagi ini. dan tiba-tiba saja persepsinya salah setelah Osef datang dan kembali mengingat apa yang seharusnya tidak ia ingat.
Kehilangan empat temannya. Terlebih Nabe.
Kemudian, terdengar suara-suara rusuh di dekat Kai. Tentu saja itu Bayun. Ia buru-buru menuangkan nasi beserta lauknya terutama telur ke piring putihnya dan memakannya cepat. Makanan masih tersisa di mulutnya, tapi Bayun terus memasukkan makanan ke dalam mulutnya.
Air matanya turun dengan ia yang masih sibuk memakan makanannya. Semua Temannya menatapnya kaget. Mulutnya benar-benar penuh. Pipinya bahkan jadi membengkak karena terlalu banyak makan, dan air matanya juga terus mengalir.
“Bayun hentikan!” interupsi Kosik, membuat pergerakan tangan Bayun terhenti.
Bayun menatap Kosik tajam, masih dengan pipinya yang bengkak. “menahishah… sesuha.. halian.. halena.. hengan cahla ini… isahan.. halian.. tidhak.. ahan.. heluar.. (menangislah sesuka kalian.. karena dengan cara ini.. isakan kalian tidak akan keluar)” ucapnya masih dengan mulut yang penuh.
Bayun mulai mengunyah makanan di mulutnya, membuat pipi bengkaknya bergerak. Dan setelah mulutnya habis ia mulai berbicara. “suara kalian tidak akan terdengar… kalian juga tidak bisa terus menerus menyimpan tangis kalian dalam hati..”
Ia usap kasar air matanya dan menatap bokur, kosik,barcey, kajix ,kolu dan osef yang masih menatapnya datar. Ia yakin, 6 temannya juga mengalami guncangan hebat dalam hatinya. Semua itu karena orang-orang yang mereka cintai.
“apakah tuhan sengaja menciptakan makhluk yang nyaris sempurna seperti kalian untuk tidak bisa kami miliki?”, batinnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
END